Kathryn Kuhlman – Warisan Rohaninya dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Saya

August 28, 2009 - Author: admin - 1 Comment

clip_image004

Benny Hinn.

Tidak seorangpun bisa memprediksi seorang gadis kecil keturunan Jerman yang tinggal di kota kecil Missouri-Amerika Serikat akan menjadi penginjil wanita yang mengubah hidup banyak orang. Ayah seorang penganut Gereja Baptist yang tidak terlalu taat dan Ibu seorang pengikut Gereja Methodist yang disiplin, membuat Kathryn tumbuh dalam dua aliran gereja tersebut. Sifatnya yang konyol dan nakal ala anak-anak membuat orangtuanya cukup kelelahan terhadap level kreatifitasnya yang kadang merepotkan.

Suatu kali, dia siang hari, di sebuah Gereja Methodist-Missouri, Kathryn bertemu dengan sebuah Pribadi yang akan mengubah perjalanan hidupnya. Pribadi yang lembut, Roh Kudus itu melawatnya saat dia berusia 14 thn. Pribadi itu melawat Kathryn saat ia memuji Tuhan, tubuhnya mulai bergetar, dan kelembutan kuasaNya membuat Kathryn menangis tersedu-sedu. Merasakan betapa sosok Pribadi kudus, tak bercela sedang hidup dalam hidupnya. Kathryn terus menangis dan akhirnya momen itu menjadi tanda kelahiran baru Kathryn. Sejak saat itu Kathryn menjadi pribadi yang berbeda, ia hidup tapi hidup dari kematiannya berkali-kali. Kathryn berkata, “Pada saat seseorang sudah tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, maka Roh itu akan semakin hidup dalam dirinya.” Sungguh luar biasa, kata-kata yang lahir dari perenungan dan pengalaman hidup yang hebat bersama Tuhan.

Akhirnya sejak usia 16, Kathryn membantu pelayanan kakak perempuan dan suaminya yang juga adalah Hamba Tuhan dengan menginjil keliling. Pelayanannya terus berkembang hingga ia mulai dipercayakan untuk berkhotbah. Selanjutnya, pelayanan Kathryn ditandai dengan mujizat kesembuhan, kelepasan dan kelahiran baru dari orang-orang yang mau menerima Kristus.

Lebih dari ribuan orang yang hadir dalam pelayanannya, bahkan sering kali orang-orang hadir dan mengantri di depan gedung ibadah yang digunakan 4 jam sebelumnya. Roh Kudus selalu menyatakan manifestasinya pada saat ibadah berlangsung, dan tidak ada metode khusus yang menjadi ciri khasnya dalam ibadah. Kadang pada saat pujian, kesembuhan mulai terjadi.. pada saat tengah-tengah khotbah, orang-orang mulai dipulihkan. Bahkan kadang, sebelum “Altar call”, orang-orang telah berjejer berjalan maju menuju altar untuk menerima Kristus. Kathryn selalu berkata, “Jangan batasi Roh Kudus dengan metode dan pikiranmu, Dia sebuah pribadi.”

Ada sebuah kisah yang sangat menggugah hati saya, dalam sebuah ibadah Mujizat di Toronto,21 Des 1973. Ibadah ini juga merupakan ibadah Kathryn yang pertama kali dihadiri Benny Hinn saat usianya 21 tahun. Di tengah-tengah ibadah Kahtryn menangis tersedu-sedu. Serentak semua diam, hening, bahkan mungkin jika ada 1 jarum yang jatuh ke lantai, suara dentingannya dapat terdengar di seantero ruangan. Momen itu juga yang selalu dikenang para stafnya juga Benny Hinn. Setelah terisak beberapa saat, Kathryn berkata, “Toloonggg.. toloonngg..” dengan suara penuh harap. “Tolongggg, jangan mendukakan Roh Kudus. “ Sambil masih menangis, dia berkata, “Hanya Dia yang saya miliki!, tolongggg! Jangan sakiti Dia! Jangan sakiti Dia yang saya kasihi!”. Air mata saya tumpah sewaktu membaca kalimat ini, “Tuhan… saya juga rindu mengenalmu lebih dalam lagi dan mengasihiMu seperti ini” jerit saya dalam hati.

Pelayanan Kathryn terus berkembang, dia mulai memasuki area tehnologi informasi, mulai dari tv, radio, surat kabar. Namun satu cacatan yang saya dapatkan, Kathryn sangat perfeksionis untuk Tuhan. Dia hanya mau bekerjasama dengan orang-orang terbaik di bidangnya, orang-orang penuh komitmen dan gigih menciptakan yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Semakin lama, Tuhan semakin memakai hidup Kathryn, dan dalam setiap ibadah, Tuhan senantiasa menunjukan kemuliaanNya. Kathryn selalu berkata, “Saya tidak ada hubungan sama sekali dengan mujizat atau kesembuhan yang orang-orang alami, saya sama kagetnya mendengar ada yang sembuh dari sakitnya, bahkan kadang saya lebih kaget dari anda.” Kerendahan hati yang begitu tulus membuat Tuhan bekerja bebas,sangat bebas dalam hatinya. Memang, “Pada saat seseorang sudah tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, maka Roh itu akan semakin hidup dalam dirinya.” Saya menggaris bawah poin itu.

Selebihnya hidup Kathryn sama dengan wanita pada umumnya, bahkan dia sempat melakukan kesalahan dalam keputusan penting hidupnya, tapi kepekaannya akan suara Roh membuatnya kembali menjalani hidup yang sudah Tuhan tetapkan baginya.

Kehidupan dan dedikasi Kathryn Kuhlman layak diteladani, bukan hanya oleh Benny Hinn tapi oleh kita semua. Bagaimana melayani dengan sepenuh hati, dan mati berkali-kali agar kehidupan Roh itu menjadi lebih nyata setiap waktu.

 

5 artikel terakhir oleh admin

Categories: Book

  • http://www.facebook.com/kiharjono.juno Kiharjono Juno

    i like